Cerpen Anak: Aku Seorang Pelukis

gurune.net – Cerpen Anak: Aku Seorang Pelukis. Berikut gurune akan tamplkan contoh cerpen anak dengan judul ” Aku Seorang Pelukis ‘. Cerpen ini merupakan HAK Cipta Asli Milik gurune.net.

Aku Seorang Pelukis

Hari ini ada pelajaran seni lukis di sekolah. Mata pelajaran yang sangat aku sukai. Meski hanya berbekal pensil warna usang milik Kakak, aku tetap bersemangat untuk menggambar.

            Oh, ya, namaku Budi. Aku berumur 10 tahun dan saat ini duduk di kelas 4 SD. Sejak kecil, aku senang sekali menggambar. Namun, aku belum pernah sekali pun ikut lomba. Ibu tidak punya uang untuk mendaftar.

            “Gambarmu bagus sekali, Budi,” kata Bu Mila ketika melihat hasil karyaku. Bu Mila adalah wali kelasku.

“Terima kasih, Bu,” sahutku.

“Bagaimana kalau kamu Ibu daftarkan untuk ikut FL2SN cabang melukis?” tanya Bu Mila.

“Hem … biaya pendaftarannya berapa, ya, Bu?”

“Kamu enggak usah khawatir. Nanti sekolah yang akan mendaftarkan,” jawab Bu Mila sambil tersenyum.

Aku senang mendengarnya. Sudah lama aku ingin sekali mengikuti perlombaan.

“Besok sepulang sekolah, kita mulai latihan. Lomba akan dilaksanakan pekan depan. Jangan lupa bawa cat air biar gambarmu lebih bagus, ya,” terang Bu Mila.

Aku berpikir sejenak. Kemudian, aku mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.

Bagaimana caraku meminta cat air pada Ibu? Sementara untuk biaya pendaftaran lomba yang sepuluh ribu saja, Ibu selalu berkata tidak punya uang.

Bel pulang pun berbunyi. Aku pulang ke rumah dengan langkah gontai. Jika tidak membawa cat air, pasti aku tidak jadi diikutsertakan lomba ini.

Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu sedang menyetrika. Beberapa tumpukan baju tetangga memang selalu menghiasi pemandangan rumahku yang sepetak ini. Selesai melepas sepatu, aku mengucap salam dan mencium punggung tangan Ibu yang terasa kasar itu.

“Ibu hanya masak tempe goreng, Bud. Kalau kamu tidak mau, sana beli telur di warung, nanti Ibu ceplokin,” kata Ibu sambil menatapku, setelah mematikan setrikanya.

“Enggak usah, Bu. Budi mau, kok, makan tempe goreng.”

Ibu mengelus kepalaku dengan lembut. Aku tidak tega melihat wajah Ibu yang tampak lelah. Ibu telah bekerja keras untuk menyekolahkan aku dan Kakak, sepeninggal Ayah dua tahun lalu akibat kecelakaan.

Aku menuju kamar untuk berganti pakaian. Setelah itu, aku ke dapur untuk mengambil nasi dan tempe goreng. Aku kembali ke depan, duduk di belakang Ibu yang melanjutkan pekerjaannya.

“Bu ….”

“Ya?” Tanpa menoleh, Ibu menyahut ucapanku.

“Kata Bu Mila, aku akan didaftarkan untuk ikut lomba menggambar. Tapi ….” Lagi-lagi, aku tidak mampu berkata.

“Kalau harus biaya sendiri, Ibu enggak ada duit, Bud,” sahut Ibu cepat.

“Sekolah yang bayar biaya pendaftarannya, Bu. Budi hanya disuruh bawa cat air,” ucapku lirih.

Ibu kembali mematikan setrikanya. Ibu tampak serius menatapku.

“Harganya berapa? Kamu kan tahu, buat makan sehari-hari saja kita susah.”

“Tapi, Bu, kapan lagi aku bisa ikut lomba?” kataku sedikit terisak.

“Maaf, Bud, Ibu enggak bisa. Pakai saja pensil warna kakakmu itu.” Ibu kembali meraih setrikanya, lalu menggilas satu per satu baju yang menumpuk itu.

Aku hanya bisa terdiam dan melanjutkan makan dengan hati bimbang. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Keesokan harinya sepulang sekolah, Bu Mila mengajakku ke aula untuk bergabung dengan teman-teman lain yang diikutsertakan lomba. Dengan ragu, aku keluarkan pensil warna yang sudah mulai pendek-pendek itu.

“Cat airmu mana, Bud?” tanya Bu Mila.

“Maaf, Bu, Budi tidak punya cat air. Ibu tidak mampu membelinya,” jawabku dengan menunduk.

Tangan Bu Mila mengelus bahuku. “Ya sudah, hari ini latihannya pakai pensil warnamu dulu saja. Insyaallah, nanti Ibu yang akan membelikan cat air untukmu. Berlatihlah dengan sungguh-sungguh.”

Aku mengangkat kepala, lalu tersenyum setelah mendengar ucapan Bu Mila. Tanpa ragu lagi, aku mulai membuat sketsa di atas kertas gambar. Kemudian, memolesnya dengan gradasi warna agar gambarku tampak hidup.

***

Akhirnya, aku mengikuti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FL2SN) yang dimulai di tingkat kecamatan ini. Berbekal cat air dari Bu Mila, aku membuat lukisan pemandangan alam.

Aku berdebar ketika hasil lomba mulai diumumkan. Aku takut mengecewakan Bu Mila.

“Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, Bud. Kita terima saja apapun hasilnya, ya. Ibu tetap bangga padamu.” Seperti tahu kekhawatiranku, Bu Mila menyemangati aku yang memang tampak gelisah ini.

Juara 3 dan juara 2 sudah diumumkan, tetapi namaku tidak masuk di keduanya. Aku bertambah gelisah.

“Dan untuk juara pertama, diraih oleh Budi Permana dari SD Angkasa!”

Sontak aku mengucap hamdalah. Bu Mila bersorak senang sambil mengguncang bahuku. Usahaku tidak sia-sia. Selain piala, aku juga mendapat beasiswa masuk sanggar lukis terkenal di kotaku.

Aku memang ingin menjadi seorang pelukis. Aku berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk meraih cita-citaku ini.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.