Cerpen Anak : Cita-Cita ini Bernama Voice Over Talent

gurune.net – Berikut contoh ceprpen anak, karya ini adalah karya original dari gurune.net. Silahkan dibaca untuk referensi tentang cerpen anak.

Cita-Cita ini Bernama Voice Over Talent

Tidak jarang temanku protes saat bersama denganku. Kata mereka, aku berisik. Apalagi saat kami menonton TV di hari libur. Aku sering menirukan iklan-iklan yang tayang di TV. Bagiku, menjadi kurang menarik ketika menikmati film kartun favorit tanpa diselingi iklan.

Sebab itu lah aku menjadi sering menyendiri. Tidak ada teman yang mau menonton lagi bersamaku. Saat berjalan sendirian pun aku suka menyuarakan tulisan apapun yang kulihat. Mencoba menirukan gaya suara iklan yang pernah kudengar. Jadinya, selain tidak punya banyak teman, aku juga ditertawakan karena berkali-kali kepergok ngomong sendirian.

Hari ini wali kelasku mengumumkan pada masing-masing siswa untuk menunjukkan bakat yang kami punya. Tidak lama lagi pentas seni yang biasanya menjadi agenda tahunan sekolah akan tiba. Siswa kelas 6 yang paling diutamakan untuk tampil. Jadi, minggu depan, kami harus mulai latihan.

Tiga hari berlalu, aku masih bingung pertunjukan apa yang harus kubuat. Aku menceritakan kebingunganku ini kepada mama dan papaku. Mereka bilang, suaraku bagus saat bernyanyi.

“Rosi sayang, saat pentas seni nanti, Rosi nyanyi aja. Suaramu kan bagus, Nak,” saran Ibu padaku saat kami berkumpul di ruang keluarga.

“Teman kelasku juga pasti banyak yang nyanyi, Ma. Aku ingin menampilkan pertunjukan yang berbeda.” Mama dan papa tampak berpikir sejenak setelah mendengarkan tanggapanku.

“Selain menyanyi, apa yang Rosi suka lakukan?” Tanya papa kemudian.

Ada satu hal yang membuatku bahagia melakukannya. Tapi aku ragu memberi tahu mereka.

“Rosi suka menirukan iklan-iklan di TV. Rosi juga seneng banget mengulang dialog film kartun yang biasanya Rosi tonton.” Akhirnya aku mengatakannya meskipun ragu-ragu.

“Wah, ide bagus tuh, Nak!” seru Mama dengan antusias.

“Papa juga sering melihat kamu bersemangat melakukannya. Jadi tunjukkan bakatmu ini!” Kalimat papa membuat mataku berbinar-binar.

“Apa aku bisa, Ma, Pa? Teman-temanku sering menertawakanku.

“Tentu bisa, Sayang! Bahkan kamu bisa menjadi pengisi suara seperti yang diiklan-iklan itu. Namanya Voice Over Talent.” Mama menyebutkan satu nama pekerjaan yang kucari-cari selama ini. Mulai sekarang juga aku bercita-cita menjadi Voice Over Talent.

Setelah mendapatkan dukungan dari Papa dan Mama, aku bersemangat dan tidak malu lagi menunjukkan bakatku. Aku akan memberikan pertunjukan berupa menirukan berbagai suara iklan yang aku hafal. Aku akan berusaha dan rajin latihan meskipun teman-temanku sering mengolok-olok.

Kini tiba di hari pertama latihan bersama. Ibu guru memanggil satu persatu siswa di kelasku untuk menunjukkan penampilannya. Ada yang bermain piano, menari balet, berpuisi, bernyanyi, dan masih banyak lagi. Nyaliku sempat menciut melihat mereka. Tapi aku ingat perkataan kedua orang tuaku kalau setiap anak punya bakat masing-masing. Tidak apa-apa meskipun awalnya ditertawakan. Jika aku terus berusaha maka aku bisa menunjukkan kehebatanku.

“Rosiana, apa yang akan kamu tampilkan, Nak?” Suara Ibu guru tiba-tiba membuyarkan lamunanku. Ternyata sudah tiba giliranku untuk maju ke depan kelas.

“Rosi mau menirukan berbagai iklan yang ada di TV, Bu!” Dengan penuh semangat, aku menjawabnya. Sebagaimana yang aku bayangkan, teman kelasku tertawa setelah mendengar perkataanku. Kelas menjadi gaduh.

“Anak-anak tenang! Ayo dengarkan ibu baik-baik!”

“Baik, Buuuuuuu!” Suara siswa sekelas kompak menjawab perintah wali kelas.

“Rosi, ibu senang sekali mendengar ide pertunjukanmu. Coba sekarang tunjukkan, Nak.” Kata-kata ibu guru menenangkan kegugupanku.

“Anak-anak semuanya, perhatikan Rosi dengan tenang ya!” lanjut Ibu guru.

Kemudian aku mulai memperlihatkan kemampuanku. Dengan penuh percaya diri kutirukan beraneka ragam iklan dengan jenis suara yang berbeda-beda. Ada iklan shampoo, susu, ice cream, obat demam, iklan sepatu, dan lain-lain. Ah, senang rasanya memperlihatkan bakatku ini.

Setelah itu ibu guru memberi pujian padaku. Aku semakin bersemangat untuk melakukannya meskipun sebagian dari temanku masih saja tertawa meremehkan.

Kami semua rutin melakukan latihan untuk pementasan. Aku sendiri tidak hanya berlatih di sekolah, tapi juga di rumah. Mama Papa sering mendampingiku saat latihan. Mereka selalu mendukungku untuk tampil maksimal. Bahkan memberiku semangat untuk mengembangkan kemampuanku ini yang juga menjadi cita-citaku.

Kini pementasan berlangsung. Aku sungguh gugup dan deg-deg kan. Namun kehadiran orang tuaku serta dukungan dari guru-guru dan sebagian teman membuatku percaya diri. Aku bahagia bisa tampil dengan bakat terpendamku. Berbagai pujian berdatangan. Setelah acara pentas seni itu, aku semakin giat untuk meraih cita-cita. Aku yakin bisa menjadi seorang Voice Over Talent seperti yang Mama papaku bilang. Aku tidak malu meskipun sering ngomong sendiri saat di jalan. Aku bahagia dapat melakukannya setiap hari. Semakin aku senang saat teman-teman yang dulu sering protes karena aku berisik, kini mereka mau nonton TV lagi bersamaku.

Demikian pembahasan tentang Cepren Anak.

Materi Terkait


Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.