Ketrampilan Berbahasa Indonesia di SD

Hubungan Menyimak dengan Berbicara Kegiatan menyimak merupakan salah satu faktor yang dapat menunjang keterampilan berbahasa. Sebagaimana Tompkins dan Hoskisson (Aminuddin, 1997:71) disebut sebagai "most mysterious language process'. Dinyatakan demikian karena seseorang yang tampak dengan serius menyimak belum tentu memahami isi simakan. Sementara itu, menyimak sambil melakukan aktivitas lain, misalnya membaca, ternyata tidak mampu menanggapi secara tepat ketika ditanya.     Di antara ketiga kegiatan, mendengar, mendengarkan, dan menyimak, maka taraf tertinggi adalah kegiatan menyimak. Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bahkan lebih dari itu, faktor perhatian dan penilaian pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak. Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan maka baik mendengar maupun mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.     Peristiwa menyimak diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon, atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga kita diindentifikasi menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Jeda dan intonasi pun ikut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian ditafsirkan maknanya dan dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima tidaknya.  Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasikan, menafsirkan, menilai,     dan mereaksi terhadap makna yang termuat pada wacana lisan. Jadi, peristiwa menyimak pada hakikatnya merupakan rangkaian kegiatan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.  Pada kenyataanya, peristiwa berbicara selalu dibarengi dengan peristiwa menyimak. Atau peristiwa menyimak pasti ada dalam peristiwa berbicara. Dalam kegiatan komunikasi keduanya secara fungsional tidak terpisahkan. Dengan demikian, komunikasi lisan tidak akan terjadi jika kedua kegiatan itu, yaitu berbicara dan menyimak, tidak berlangsung sekaligus atau tidak saling melengkapi.     Dengan uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam komunikasi lisan pembicara dan penyimak berpadu dalam satu kegiatan yang resiprokal. Keduanya dapat berganti peran secara spontan, dari pembicara menjadi penyimak atau sebaliknya, dari penyimak menjadi pembicara. Dengan demikian, kegiatan berbicara dan menyimak saling mengisi atau saling melengkapi.     Tujuan Menyimak  Setiap orang tentu mempunyai tujuan dalam menyimak antara lain: Ada bertujuan agar dapat memeroleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara. Ada pula orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan atau dipagelarkan. Ada pula yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai apa-apa yang disimaknya.    Ada pula penyimak bermaksud untuk dapat menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (misalnya: pembacaan cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, perdebatan). Ada pula yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat.     Menyimak dapat pula bertujuan agar dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedakan arti, mana bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar bahasa Asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli. Dapat pula dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memeroleh banyak masukan berharga, untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang selama ini dia ragukan.        Jenis-Jenis Mendengarkan  Tarigan (1981) membagi jenis mendengarkan atas dasar proses mendengarkannya dan diperoleh dua jenis mendengarkan yaitu (1) mendengarkan ekstensif, dan (2) mendengarkan intensif.  Mendengarkan ekstensif ialah proses mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Ada empat jenis kegiatan mendengarkan ekstensif yang meliputi mendengarkan sekunder, sosial, estetika, dan pasip.     a) Mendengarkan sekunder  Mendengarkan sekunder adalah proses mendengarkan yang terjadi secara kebetulan. Misalnya, seseorang sedang membaca suatu bacaan sambil mendengarkan percakapan orang lain, siaran radio, suara televisi, atau yang lainnya.     b) Mendengarkan sosial  Mendengarkan sosial adalah proses mendengarkan yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial atau di tempat umum seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, atau di tempat yang umum lainnya.     c) Mendengarkan estetika  Mendengarkan estetika atau mendengarkan apresiatif yaitu proses mendengarkan untuk menikmati dan menghayati keindahan misalnya; mendengarkan pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, lagu, dan yang sejenisnya.     d) Mendengarkan pasif  Mendengarkan pasif adalah proses mendengarkan suatu yang dilakukan tanpa sadar. Misalnya, kita tinggal di suatu daerah yang menggunakan bahasa daerah. Sedangkan kita sendiri menggunakan bahasa nasional. Setelah beberapa lama tanpa disadari kita dapat mampu menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemampuan menggunakan bahasa daerah tersebut dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar. Tetapi, kenyataannya orang tersebut mampu menggunakan bahasa bahasa daerah dengan baik.    Mendengarkan intensif adalah proses mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi yang tinggi untuk menangkap, memahami, dan mengingat informasinya. Kamidjan dan Suyono, (2002: 12) menjelaskan ciri-cirinya sebagai berikut. Mendengarkan intensif adalah mendengarkan pemahaman yaitu proses     mendengarkan dengan tujuan untuk memahami makna pembicaraan dengan baik. Berbeda dengan mendengarkan ekstensif yang lebih menekankan pada hiburan, kontak sosial, dan sebagainya.  Mendengarkan intensif memerlukan konsentrasi tinggi yaitu pemusatan pikiran terhadap makna pembicaraan.    Cara yang dapat dilakukan agar kita dapat mendengarkan dengan konsentrasi yang tinggi adalah kita harus mampu menjaga pikiran agar tidak terpecah dan perasaan agar tenang, serta menjaga perhatian agar terpusat pada makna pembicaraan serta menghindari berbagai hal yang dapat mengganggu.    Tahapan Mendengarkan     Tarigan, (1991) menjelaskan tahapan-tahapan mendengarkan yaitu tahapan mendengarkan, memahami, menginterpretasi, dan tahap mengevaluasi. Tahap mendengarkan merupakan tahap mendengarkan pembicaraan. Tahap memahami adalah tahap memahami isi pembicaraan. Tahap menginterpretasi adalah tahap menafsirkan isi yang tersirat dalam pembicaraan. Tahap mengevaluasi tahap menerima pesan, ide, dan pendapat yang disampaikan oleh pembicara yang selanjutnya menanggapinya.     2. Keterampilan Membaca di Kelas Tinggi dan Kelas Rendah  Pengertian membaca  Membaca merupakan salah satu kemampuan yang perlu dimiliki oleh siswa mulai sekolah dasar sampai sekolah lanjutan. Dengan memiliki kemampuan membaca, berbagai pengetahuan dapat diperoleh. Kemampuan membaca, seperti juga halnya dengan kemampuan berbahasa yang lain, dapat dimiliki melalui bimbingan dan latihan yang intensif. Latihan kemampuan membaca pada tingkat dasar sangat penting karena merupakan penanaman dasar membaca. Latihan dasar ini sangat menentukan kemampuan siswa dalam membaca lanjut.     Davies (1997) memberikan pengertian membaca sebagai suatu proses mental atau proses kognitif yang di dalamnya seorang pembaca diharapkan bisa mengikuti dan merespon terhadap pesan si penulis. Dapat dikatakan bahwa membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkannya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik simpulan mengenai maksud bacaan.     Tujuan Membaca  Pelajaran membaca di SD kelas rendah dan kelas tinggi memiliki perbedaan. Membaca permulaan yang diberikan di kelas I, II dan III bertujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut. Mengupayakan agar siswa dapat mengenal dan membaca huruf demi huruf, kata demi kata, kalimat demi kalimat dengan lafal yang tepat dan lancar dan intonasi yang wajar. Pada awal bacaan hendaknya diberikan materi bacaan dengan memperhatikan pengenalan huruf secara bertahap (a, i, m, n.), (u, l, b), (o, d), (k, s), dan seterusnya), dan diupayakan menghindari bacaan yang terdapat huruf yang sulit dibaca anak, seperti: f, v, r, sy, ny, ng, dan str.  Adapun membaca lanjut diberikan pada kelas III, IV, V, dan VI bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Keterampilan membaca sebagai salah satu keterampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD agar mampu berkomunikasi secara tertulis. Oleh karena itu, peranan pengajaran bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting. Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1995:5) Pengajaran bahasa Indonesia di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.    Aspek-aspek keterampilan untuk membaca lanjut, untuk memahami isi bacaan ada bermacam-macam Syaf'ie (1994) menyebutkan empat tingkatan atau kategori pemahaman membaca, yaitu literal, inferensial, kritis, dan kreatif. Pembahasan mengenai tingkat pemahaman berikut mengacu pada Burns dan Roe sebagaimana diuraikan sebagai berikut.     Pemahaman literal adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Pemahaman literal merupakan pemahaman tingkat paling rendah. Walaupun tergolong tingkat rendah, pemahaman literal tetap penting, karena dibutuhkan dalam proses pemahaman bacaan secara keseluruhan. Pemahaman literal merupakan prasyarat bagi pemahaman yang lebih tinggi (Burns dan Roe, 1996:225).  Pemahaman inferansial adalah kemampuan memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung (tersirat) dalam teks. Memahami teks secara inferensial berarti memahami apa yang diimplikasikan oleh informasi-informasi yang dinyatakan secara eksplisit     dalam teks. Dalam hal ini, pembaca menggunakan informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, latar belakang pengetahuan, dan pengalaman pribadi secara terpadu untuk membuat dugaan atau hipotesis.    Pemahaman kritis merupakan kemampuan mengevaluasi materi teks. Pemahaman kritis pada dasarnya sama dengan pemahaman evaluatif. Dalam pemahaman ini, pembaca membandingkan informasi yang ditemukan dalam teks dengan norma-norma tertentu, pengetahuan, dan latar belakang pengalaman pembaca untuk menilai teks.     Pemahaman kreatif merupakan kemampuan untuk mengungkapkan respon emosional dan estetis terhadap teks yang sesuai dengan standar pribadi dan standar profesional. Pemahaman kreatif melibatkan seluruh dimensi kognitif membaca karena berkaitan dengan dampak psikologi dan estetis teks terhadap pembaca. (Hafni, 1981) dalam pemahaman kreatif, pembaca dituntut menggunakan daya imajinasinya untuk memperoleh gambaran baru yang melebihi apa yang disajikan penulis.     3. Jenis Membaca di SD  Jenis membaca berdasarkan tujuan membaca yang harus dicapai pada tiap kelas menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pandidikan BI SD, adalah:  (1) membaca teknik,  (2) membaca sekilas,  (3) membaca memindai,  (4) membaca intensif,  (5) membaca cepat, dan  (6) membaca indah.     Membaca teknik  Membaca teknis adalah jenis membaca yang dilakukan dengan bersuara. Jenis membaca ini biasa dilakukan pada kelas-kelas rendah dengan tujuan untuk melatih siswa menyuarakan lambang-lambang tertulis. Melalui kegiata ini siswa dilatih membaca dengan intonasi yang wajar, tekanan yang baik, lafal yang benar, dan pemakaian tanda baca.     Membaca Pemahaman/Membaca Dalam Hati  Membaca merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk memahami isi bacaan melalui kegiatan pengenalan kata demi kata atau kalimat demi kalimat. Durkin (1989: 7) membaca merupakan kegiatan mengenali kata-kata pengarang dan memahami isinya sesuai konteks yang ada. Untuk mencapai hal tersebut, pembaca perlu melakukan berbagai proses, seperti:  (1) mengajukan dan atau menjawab pertanyaan sesuai isi bacaan,  (2) menceritakan kembali dengan kata-kata sendiri,  (3) meringkas bacaaan,  (4) mengemukakan gagasan utama,  (5) menentukan bagian yang menarik dalam cerita,  (6) mengemukakan pesan cerita dan sifat pelaku, dan  (7) memberi tanggapan.  Membaca menurut Antony dkk (Miller, 1993: 283) bukan hanya sekedar melafalkan huruf demi huruf atau kata demi kata dalam wacana, melainkan suatu proses menyusun makna melalui interaksi yang dinamis antara pengetahuan pembaca yang dikuasainya dengan informasi yang ada dalam bahasa tulis dan konteks situasi membaca. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa membaca menuntut adanya interaksi aktif antara pikiran dengan bahasa pembaca dan antara pikiran dengan bahasa penulis yang dinyatakan dalam teks tertulis.     Membaca Cepat  Membaca cepat menurut sabarti (1999) adalah salah satu jenis membaca yang bertujuan agar siswa mampu memahami isi bacaan dalam waktu yang relatif cepat. Dengan demikian, membaca cepat pada dasarnya dapat dikatakan juga dengan membaca pemahaman, hanya saja dipercepat waktunya. Artinya, tanpa mengabaikan aspek pemahaman isi bacaan secara tepat, siswa dapat membaca suatu teks bacaan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi, membaca cepat adalah salah satu bagian dari membaca pemahaman yang intinya mengharapkan siswa dapat membaca teks bacaan secara "cepat" dengan pemahaman isi yang tepat.     Teknik Membaca Cepat  Macam-macam teknik membaca cepat terbagi dua yaitu: skiming dan skaning. Skiming adalah teknik untuk mencari gagasan pokok atau hal-hal penting yang ada dalam bacaan. Orang yang sedang membaca skiming berarti tidak harus membaca kata demi kata. Contoh skiming untuk mendapatkan gagasan utama dari sebuah buku teks sehingga dapat memutuskan apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail. Jadi, Skiming bisa dilakukan apabila:  - Ingin mengenal topik bacaan  - Melakukan penyegaran akan yang pernah dibaca  - Mendapatkan bagian penting dari suatu bacaan  - Sebagai penyegaran yang pernah dibaca  - Mempersiapkan sebelum menyampaikan ceramah  - dsb.     Skanning adalah teknik membaca untuk memahami informasi dari suatu bacaan. Teknik ini biasanya dilakukan jika Anda telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang Anda cari sehingga berkonsentrasi mencari jawaban yang spesifik. Tujuan membaca ini yaitu ingin mengetahui isi keseluruhan sebuah buku secara cepat dan menyeluruh, sementara waktu yang tersedia sangat terbatas. Contoh: bila Anda menemukan buku yang menarik di perpustakaan. Sementara waktu Anda hanya 15 menit. Lalu buku itu Anda buka-buka secara keseluruhan dengan cepat ingin mengetahui isinya. Skaning dapat dilakukan bila:    - Menemukan nomor tertentu pada direktori telepon.  - Mencari arti kata dalam kamus.  - Membaca daftar menu makanan di rumah makan  - Membaca jadwal pelajaran  - dsb.     Membaca Sekilas  Menurut Tarigan (1991) membaca sekilas adalah sejenis membaca yang dengan cepat membuat pandangan mata kita bergerak melihat, memerhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi. Dan semakin dipahami bila dikaitkan dengan pendapat Sudarso (1991) bahwa "membaca sekilas berarti mencari hal-hal penting dari bacaan itu, yaitu ide pokok dan detil yang penting".

Hubungan Menyimak dengan Berbicara

Kegiatan menyimak merupakan salah satu
faktor yang dapat menunjang keterampilan berbahasa. Sebagaimana Tompkins dan
Hoskisson (Aminuddin, 1997:71) disebut sebagai “most mysterious language
process’. Dinyatakan demikian karena seseorang yang tampak dengan serius
menyimak belum tentu memahami isi simakan. Sementara itu, menyimak sambil
melakukan aktivitas lain, misalnya membaca, ternyata tidak mampu menanggapi
secara tepat ketika ditanya.

Di antara ketiga kegiatan, mendengar,
mendengarkan, dan menyimak, maka taraf tertinggi adalah kegiatan menyimak.
Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman
merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bahkan lebih dari itu,
faktor perhatian dan penilaian pun selalu terdapat dalam peristiwa menyimak.
Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan maka baik mendengar maupun
mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.

Peristiwa menyimak diawali dengan
mendengarkan bunyi bahasa secara langsung atau melalui rekaman radio, telepon,
atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga kita diindentifikasi
menjadi suku kata, kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana. Jeda dan intonasi
pun ikut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian
ditafsirkan maknanya dan dinilai kebenarannya agar dapat diputuskan diterima
tidaknya.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa
menyimak merupakan proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa,
mengidentifikasikan, menafsirkan, menilai,

dan mereaksi terhadap makna yang termuat
pada wacana lisan. Jadi, peristiwa menyimak pada hakikatnya merupakan rangkaian
kegiatan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi.

Pada kenyataanya, peristiwa berbicara
selalu dibarengi dengan peristiwa menyimak. Atau peristiwa menyimak pasti ada
dalam peristiwa berbicara. Dalam kegiatan komunikasi keduanya secara fungsional
tidak terpisahkan. Dengan demikian, komunikasi lisan tidak akan terjadi jika
kedua kegiatan itu, yaitu berbicara dan menyimak, tidak berlangsung sekaligus
atau tidak saling melengkapi.

Dengan uraian di atas dapat diketahui
bahwa dalam komunikasi lisan pembicara dan penyimak berpadu dalam satu kegiatan
yang resiprokal. Keduanya dapat berganti peran secara spontan, dari pembicara
menjadi penyimak atau sebaliknya, dari penyimak menjadi pembicara. Dengan
demikian, kegiatan berbicara dan menyimak saling mengisi atau saling
melengkapi.

Tujuan Menyimak

Setiap orang tentu mempunyai tujuan dalam
menyimak antara lain: Ada bertujuan agar dapat memeroleh pengetahuan dari bahan
ujaran sang pembicara. Ada pula orang yang menyimak dengan penekanan pada
penikmatan terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang diperdengarkan
atau dipagelarkan. Ada pula yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai
apa-apa yang disimaknya.

Ada pula penyimak bermaksud untuk dapat
menikmati serta menghargai apa-apa yang disimaknya itu (misalnya: pembacaan
cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel, perdebatan).
Ada pula yang menyimak dengan maksud agar dia dapat mengomunikasikan ide-ide,
gagasan-gagasan, maupun perasaan-perasaannya kepada orang lain dengan lancar
dan tepat.

Menyimak dapat pula bertujuan agar dapat
membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang membedakan arti, mana
bunyi yang tidak membedakan arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang
yang sedang belajar bahasa Asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli.
Dapat pula dengan maksud agar dia dapat memecahkan masalah secara kreatif dan
analisis, sebab dari sang pembicara dia mungkin memeroleh banyak masukan
berharga, untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat yang
selama ini dia ragukan.

Jenis-Jenis Mendengarkan

Tarigan (1981) membagi jenis mendengarkan
atas dasar proses mendengarkannya dan diperoleh dua jenis mendengarkan yaitu
(1) mendengarkan ekstensif, dan (2) mendengarkan intensif.

Mendengarkan ekstensif ialah proses
mendengarkan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: mendengarkan
siaran radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya.
Ada empat jenis kegiatan mendengarkan ekstensif yang meliputi mendengarkan
sekunder, sosial, estetika, dan pasip.

a) Mendengarkan sekunder

Mendengarkan sekunder adalah proses
mendengarkan yang terjadi secara kebetulan. Misalnya, seseorang sedang membaca
suatu bacaan sambil mendengarkan percakapan orang lain, siaran radio, suara
televisi, atau yang lainnya.

b) Mendengarkan sosial

Mendengarkan sosial adalah proses
mendengarkan yang dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan sosial atau di
tempat umum seperti di pasar, terminal, stasiun, kantor pos, atau di tempat
yang umum lainnya.

c) Mendengarkan estetika

Mendengarkan estetika atau mendengarkan
apresiatif yaitu proses mendengarkan untuk menikmati dan menghayati keindahan
misalnya; mendengarkan pembacaan puisi, rekaman drama, cerita, lagu, dan yang
sejenisnya.

d) Mendengarkan pasif

Mendengarkan pasif adalah proses
mendengarkan suatu yang dilakukan tanpa sadar. Misalnya, kita tinggal di suatu
daerah yang menggunakan bahasa daerah. Sedangkan kita sendiri menggunakan
bahasa nasional. Setelah beberapa lama tanpa disadari kita dapat mampu
menggunakan bahasa daerah tersebut. Kemampuan menggunakan bahasa daerah
tersebut dilakukan tanpa sengaja dan tanpa sadar. Tetapi, kenyataannya orang
tersebut mampu menggunakan bahasa bahasa daerah dengan baik.

Mendengarkan intensif adalah proses
mendengarkan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan konsentrasi yang
tinggi untuk menangkap, memahami, dan mengingat informasinya. Kamidjan dan
Suyono, (2002: 12) menjelaskan ciri-cirinya sebagai berikut. Mendengarkan
intensif adalah mendengarkan pemahaman yaitu proses

mendengarkan dengan tujuan untuk memahami
makna pembicaraan dengan baik. Berbeda dengan mendengarkan ekstensif yang lebih
menekankan pada hiburan, kontak sosial, dan sebagainya.

Mendengarkan intensif memerlukan
konsentrasi tinggi yaitu pemusatan pikiran terhadap makna pembicaraan.

Cara yang dapat dilakukan agar kita dapat
mendengarkan dengan konsentrasi yang tinggi adalah kita harus mampu menjaga
pikiran agar tidak terpecah dan perasaan agar tenang, serta menjaga perhatian
agar terpusat pada makna pembicaraan serta menghindari berbagai hal yang dapat
mengganggu.

Tahapan Mendengarkan

Tarigan, (1991) menjelaskan
tahapan-tahapan mendengarkan yaitu tahapan mendengarkan, memahami,
menginterpretasi, dan tahap mengevaluasi. Tahap mendengarkan merupakan tahap
mendengarkan pembicaraan. Tahap memahami adalah tahap memahami isi pembicaraan.
Tahap menginterpretasi adalah tahap menafsirkan isi yang tersirat dalam
pembicaraan. Tahap mengevaluasi tahap menerima pesan, ide, dan pendapat yang
disampaikan oleh pembicara yang selanjutnya menanggapinya.

2. Keterampilan Membaca di Kelas Tinggi
dan Kelas Rendah

Pengertian membaca

Membaca merupakan salah satu kemampuan
yang perlu dimiliki oleh siswa mulai sekolah dasar sampai sekolah lanjutan.
Dengan memiliki kemampuan membaca, berbagai pengetahuan dapat diperoleh.
Kemampuan membaca, seperti juga halnya dengan kemampuan berbahasa yang lain,
dapat dimiliki melalui bimbingan dan latihan yang intensif. Latihan kemampuan
membaca pada tingkat dasar sangat penting karena merupakan penanaman dasar
membaca. Latihan dasar ini sangat menentukan kemampuan siswa dalam membaca
lanjut.

Davies (1997) memberikan pengertian
membaca sebagai suatu proses mental atau proses kognitif yang di dalamnya
seorang pembaca diharapkan bisa mengikuti dan merespon terhadap pesan si
penulis. Dapat dikatakan bahwa membaca merupakan suatu kesatuan kegiatan yang
terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata,
menghubungkannya dengan bunyi serta maknanya, serta menarik simpulan mengenai
maksud bacaan.

Tujuan Membaca

Pelajaran membaca di SD kelas rendah dan
kelas tinggi memiliki perbedaan. Membaca permulaan yang diberikan di kelas I,
II dan III bertujuan agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan
tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut.
Mengupayakan agar siswa dapat mengenal dan membaca huruf demi huruf, kata demi
kata, kalimat demi kalimat dengan lafal yang tepat dan lancar dan intonasi yang
wajar.

 Pada awal bacaan hendaknya diberikan materi bacaan dengan memperhatikan
pengenalan huruf secara bertahap (a, i, m, n.), (u, l, b), (o, d), (k, s), dan
seterusnya), dan diupayakan menghindari bacaan yang terdapat huruf yang sulit
dibaca anak, seperti: f, v, r, sy, ny, ng, dan str.

Adapun membaca lanjut diberikan pada kelas
III, IV, V, dan VI bertujuan meningkatkan kemampuan siswa berkomunikasi secara
efektif, baik lisan maupun tertulis. Keterampilan membaca sebagai salah satu
keterampilan berbahasa tulis yang bersifat reseptif perlu dimiliki siswa SD
agar mampu berkomunikasi secara tertulis. 

Oleh karena itu, peranan pengajaran
bahasa Indonesia khususnya pengajaran membaca di SD menjadi sangat penting.
Peran tersebut semakin penting bila dikaitkan dengan tuntutan pemilikan
kemahirwacanaan dalam abad informasi (Joni, 1995:5) Pengajaran bahasa Indonesia
di SD yang bertumpu pada kemampuan dasar membaca dan menulis juga perlu
diarahkan pada tercapainya kemahirwacanaan.

Aspek-aspek keterampilan untuk membaca
lanjut, untuk memahami isi bacaan ada bermacam-macam Syaf’ie (1994) menyebutkan
empat tingkatan atau kategori pemahaman membaca, yaitu literal, inferensial,
kritis, dan kreatif. Pembahasan mengenai tingkat pemahaman berikut mengacu pada
Burns dan Roe sebagaimana diuraikan sebagai berikut.

Pemahaman literal adalah kemampuan
memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks. Pemahaman
literal merupakan pemahaman tingkat paling rendah. Walaupun tergolong tingkat
rendah, pemahaman literal tetap penting, karena dibutuhkan dalam proses pemahaman
bacaan secara keseluruhan. Pemahaman literal merupakan prasyarat bagi pemahaman
yang lebih tinggi (Burns dan Roe, 1996:225).

Pemahaman inferansial adalah kemampuan
memahami informasi yang dinyatakan secara tidak langsung (tersirat) dalam teks.
Memahami teks secara inferensial berarti memahami apa yang diimplikasikan oleh
informasi-informasi yang dinyatakan secara eksplisit

dalam teks. Dalam hal ini, pembaca
menggunakan informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam teks, latar
belakang pengetahuan, dan pengalaman pribadi secara terpadu untuk membuat
dugaan atau hipotesis.

Pemahaman kritis merupakan kemampuan
mengevaluasi materi teks. Pemahaman kritis pada dasarnya sama dengan pemahaman
evaluatif. Dalam pemahaman ini, pembaca membandingkan informasi yang ditemukan
dalam teks dengan norma-norma tertentu, pengetahuan, dan latar belakang
pengalaman pembaca untuk menilai teks.

Pemahaman kreatif merupakan kemampuan
untuk mengungkapkan respon emosional dan estetis terhadap teks yang sesuai
dengan standar pribadi dan standar profesional. 

Pemahaman kreatif melibatkan
seluruh dimensi kognitif membaca karena berkaitan dengan dampak psikologi dan
estetis teks terhadap pembaca. (Hafni, 1981) dalam pemahaman kreatif, pembaca
dituntut menggunakan daya imajinasinya untuk memperoleh gambaran baru yang
melebihi apa yang disajikan penulis.

3. Jenis Membaca di SD

Jenis membaca berdasarkan tujuan membaca
yang harus dicapai pada tiap kelas menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pandidikan
BI SD, adalah:

(1) membaca teknik,

(2) membaca sekilas,

(3) membaca memindai,

(4) membaca intensif,

(5) membaca cepat, dan

(6) membaca indah.

Membaca teknik

Membaca teknis adalah jenis membaca yang
dilakukan dengan bersuara. Jenis membaca ini biasa dilakukan pada kelas-kelas
rendah dengan tujuan untuk melatih siswa menyuarakan lambang-lambang tertulis.
Melalui kegiata ini siswa dilatih membaca dengan intonasi yang wajar, tekanan
yang baik, lafal yang benar, dan pemakaian tanda baca.

Membaca Pemahaman/Membaca Dalam Hati

Membaca merupakan suatu kegiatan yang
bertujuan untuk memahami isi bacaan melalui kegiatan pengenalan kata demi kata
atau kalimat demi kalimat. Durkin (1989: 7) membaca merupakan kegiatan
mengenali kata-kata pengarang dan memahami isinya sesuai konteks yang ada.
Untuk mencapai hal tersebut, pembaca perlu melakukan berbagai proses, seperti:

(1) mengajukan dan atau menjawab
pertanyaan sesuai isi bacaan,

(2) menceritakan kembali dengan kata-kata
sendiri,

(3) meringkas bacaaan,

(4) mengemukakan gagasan utama,

(5) menentukan bagian yang menarik dalam
cerita,

(6) mengemukakan pesan cerita dan sifat
pelaku, dan

(7) memberi tanggapan.

Membaca menurut Antony dkk (Miller, 1993:
283) bukan hanya sekedar melafalkan huruf demi huruf atau kata demi kata dalam
wacana, melainkan suatu proses menyusun makna melalui interaksi yang dinamis
antara pengetahuan pembaca yang dikuasainya dengan informasi yang ada dalam
bahasa tulis dan konteks situasi membaca. 

Oleh karena itu, dapat dikatakan
bahwa membaca menuntut adanya interaksi aktif antara pikiran dengan bahasa
pembaca dan antara pikiran dengan bahasa penulis yang dinyatakan dalam teks
tertulis.

Membaca Cepat

Membaca cepat menurut sabarti (1999)
adalah salah satu jenis membaca yang bertujuan agar siswa mampu memahami isi
bacaan dalam waktu yang relatif cepat. Dengan demikian, membaca cepat pada
dasarnya dapat dikatakan juga dengan membaca pemahaman, hanya saja dipercepat
waktunya. 

Artinya, tanpa mengabaikan aspek pemahaman isi bacaan secara tepat,
siswa dapat membaca suatu teks bacaan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi,
membaca cepat adalah salah satu bagian dari membaca pemahaman yang intinya
mengharapkan siswa dapat membaca teks bacaan secara “cepat” dengan
pemahaman isi yang tepat.

Teknik Membaca Cepat

Macam-macam teknik membaca cepat terbagi
dua yaitu: skiming dan skaning. Skiming adalah teknik untuk mencari gagasan
pokok atau hal-hal penting yang ada dalam bacaan. Orang yang sedang membaca
skiming berarti tidak harus membaca kata demi kata. 

Contoh skiming untuk
mendapatkan gagasan utama dari sebuah buku teks sehingga dapat memutuskan
apakah buku tersebut berguna dan perlu dibaca lebih pelan dan mendetail. 

Jadi,
Skiming bisa dilakukan apabila:

– Ingin mengenal topik bacaan

– Melakukan penyegaran akan yang pernah
dibaca

– Mendapatkan bagian penting dari suatu
bacaan

– Sebagai penyegaran yang pernah dibaca

– Mempersiapkan sebelum menyampaikan
ceramah

– dsb.

Skanning adalah teknik membaca untuk memahami
informasi dari suatu bacaan. Teknik ini biasanya dilakukan jika Anda telah
mengetahui dengan pasti informasi apa yang Anda cari sehingga berkonsentrasi
mencari jawaban yang spesifik. Tujuan membaca ini yaitu ingin mengetahui isi
keseluruhan sebuah buku secara cepat dan menyeluruh, sementara waktu yang
tersedia sangat terbatas. 

Contoh: bila Anda menemukan buku yang menarik di
perpustakaan. Sementara waktu Anda hanya 15 menit. Lalu buku itu Anda buka-buka
secara keseluruhan dengan cepat ingin mengetahui isinya. Skaning dapat
dilakukan bila:

– Menemukan nomor tertentu pada direktori
telepon.

– Mencari arti kata dalam kamus.

– Membaca daftar menu makanan di rumah
makan

– Membaca jadwal pelajaran

– dsb.

Membaca Sekilas

Menurut Tarigan (1991) membaca sekilas
adalah sejenis membaca yang dengan cepat membuat pandangan mata kita bergerak
melihat, memerhatikan bahan tertulis untuk mencari serta mendapatkan informasi. 

Dan semakin dipahami bila dikaitkan dengan pendapat Sudarso (1991) bahwa
“membaca sekilas berarti mencari hal-hal penting dari bacaan itu, yaitu
ide pokok dan detil yang penting”.

Penulis :

Dra.Hj.Rosdiah Salam, M.Pd.

Dra.Andi Nurfaizah, M.Pd.

Drs. Latri S, S.Pd., M.Pd.

Prof.Dr.H. Pattabundu, M.Ed.

Widya Karmila Sari Achmad, S.Pd., M.Pd

Materi Terkait


Tinggalkan komentar