Pengakuan Dedi Mulyadi

Pengakuan Dedi Mulyadi yang Lakukan Pencitraan, Bagaimana Tanggapan Islam?

Pengakuan Dedi Mulyadi – Artikel kali ini akan membahas seperti apa pengakuan Dedi Mulyadi yang dianggap melakukan pencitraan di media sosialnya.

Dedi sendiri adalah salah satu anggota DPR RI yang aktif di dunia maya terutama di media sosial Facebook, Instagram, Tik Tok bahkan Youtube.

Ia sering kali memposting berbagai kegiatan yang biasa dilakukan dalam kesehariannya.

Baik mengenai aktivitasnya sebagai anggota DPR RI hingga kegiatan sosialnya saat sedang bersama dengan masyarakat.

Mantan Bupati Purwakarta ini menyebut apa yang ia lakukan di media sosial tersebut memang untuk pencitraan bukan hanya sekedar konten.

Dedi juga mengatakan bahwa setiap pejabat publik memang sudah sepatutnya memiliki citra dan harus dilakukan dengan konsisten.

Asumsinya bahwa melakukan hal positif di depan kamera dan dapat memotivasi banyak orang tentu saja akan membuat hidup menjadi terbiasa melakukannya tanpa sorotan kamera sekali pun.

Bahkan jumlah subscriber channel Youtube yang dimiliki oleh Dedi kini telah mencapai 3 juta.

Hal ini membuktikan bahwa banyak orang yang tertarik dengan konten-konten penyajian yang ada di kanal tersebut.

Jika Anda penasaran silahkan langsung saja menontonnya karena banyak sekali video popular yang pastinya seru untuk disaksikan.

Akan tetapi, bagaimana tanggapan Islam terhadap umat muslim yang sering melakukan kegiatan baik hanya demi sebuah pencitraan? Demikian ulasannya di bawah ini!

Pengakuan Dedi Mulyadi yang Lakukan Pencitraan, Bagaimana Tanggapan Islam?

Pengakuan Dedi Mulyadi

Dari pengakuan Dedi Mulyadi di atas, Anda tentunya juga ingin tahu seperti apa sudut pandang Islam menanggapi hal tersebut.

Baca Juga :  Guru Harusnya melayani Siapa Si?

Melakukan hal baik adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan setiap umat manusia, baik muslim atau non muslim.

Hidup berdampingan dengan baik dengan saling menebar hal positif tentu membuat setiap orang dapat merasa nyaman dan tenteram.

Namun jika ada seorang hamba yang sengaja melakukan kebaikan dengan tujuan pencitraan diri maka dia disebut lalai dari mengingat Allah SWT.

Orang-orang semacam itu hanya terbuai dengan pujian dan rasa kagum yang membuncah dari orang lain untuknya.

Sehingga sanjungan dari orang sangat ia sukai dan membuatnya lupa bersyukur bahwa Allah lah yang Maha Agung dan hanya Allah yang layak untuk dipuji.

Seperti halnya dalam islam, tidak ada dalam tradisi agama kita ini tentang pencitraan atau mengagungkan diri di hadapan orang banyak.

Karena hal ini dilarang Rasulullah SAW lantaran disebut sebagai orang yang berambisi pada kekuasaan.

Alasan Tidak Diperbolehkan Melakukan Pencitraan dalam Agama Islam antara lain :

1.     Menghilangkan Pahala

Orang yang melakukan kebaikan namun hanya ingin terlihat di mata orang lain saja maka disebut Riya.

Perbuatan ini tentu menghilangkan pahala dari amal kebaikan yang sudah ia lakukan tersebut sehingga menjadikannya sia-sia.

Sebagaimana dalam QS. al-Baqarah : 264

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”

Pengakuan Dedi Mulyadi

2.     Menimbulkan Rasa Sombong

Rasa bangga dan sombong membuat manusia lupa akan Allah yang Maha Kuasa.

Baca Juga :  Apa yang dimaksud dengan pendidikan ?

Sebagai makhluk seharusnya sadar dan rendah hati agar selalu merasa kecil dan tunduk kepada Sang Pencipta.

Karena yang terpenting saat melakukan kebaikan adalah di mana orang lain bisa merasakan manfaatnya.

Demikian di atas merupakan pengakuan Dedi Mulyadi mengenai pencitraannya di media sosial serta ulasan mengenai hal tersebut dari koridor Islam.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.