Cerpen , Cita-Cita Rahasia Lalan Belalang

gurune.net – Berikut akan gurune tampilkan satu buah contoh cerpen anak, karya Arif Prayitno, yang berjudul Cita-Cita Rahasia Lalan Belalang.

Baca Juga : Cerita Anak, Ayla Penakluk Mimpi

Cita-Cita Rahasia Lalan Belalang

oleh Arif Prayitno

Pagi hari di dalam hutan rindang tampak Mongmong Siamang Penyayang yang lincah. Dia sedang menikmati sinar matahari yang baru saja tiba. Terlihat juga para penghuni hutan lainnya mulai sibuk dengan kegiatannya.

“Du…du…di…da…da…dam…”

Terdengar Mongmong bersenandung riang. Tangannya sibuk meraih dahan pepohonan. Bergelantungan dari puncak satu ke puncak pohon lainnya.

“Selamat pagi, Mongmong,” sapa Tupi si Tupai cerdik yang baik hati.

“Pagi juga Tupi. Sapu yang bersih ya halamannya…” seru Mongmong saat melintas di atas rumah keluarga Tupi.

Penghuni hutan lain memperhatikan polah Mongmong sambil tersenyum. Mongmong memang sangat disukai warga hutan. Ia sangat dikenal sebagai Siamang periang, penyayang dan selalu senang membantu siapa saja yang sedang kesulitan.

“Hai, Mong. Mau kemana?” teriak Keke Kelinci saat sahabatnya terlihat melintas di sekitar rumahnya.

“Hari ini tampak cerah jadi aku ingin bermain di dekat danau.” jawab Mongmong seraya melambaikan tangannya. Ia memberi salam kepada Ibu Lulu yang ada di samping Keke Kelinci.

“Hati-hati, Nak”, sahut Ibu Lulu saat mendengar ucapan itu.

“Iya Ibu Lulu, pasti. Terima kasih” jawab Mongmong Siamang dengan penuh tekad.

Ibu Lulu tersenyum dan terpaksa bergumam karena Mongmong sudah melesat pergi “Pastikan sudah ijin orang tuamu, Mongmong”.

“Huuu…huuu…hiks…”

Telinga Mongmong menangkap sebuah suara mirip tangisan. Masih terdengar samar-samar. Suara yang membuatnya merasa bersedih. Mongmong akhirnya menghentikan ayunannya dan mencari sumber suara.

Ia pun turun ke tanah dan berusaha berjalan perlahan.

“Si…siapa itu?”, tanya Mongmong Siamang memberanikan diri.

Hening. Tidak jawaban, namun suara itu mulai samar.

“Halo, siapa di sana?”, Mongmong terbata-bata mengulang pertanyaannya.

“Jangan takut. Ini aku, Mongmong Siamang. Keluar dari persembunyianmu”, pinta Mongmong membujuk pemilik suara.

“Huu..huu.. Aku Lalan…huu…hiu…”, akhirnya Mongmong mendapatkan jawaban.

“Lalan? Hai, kenapa aku baru dengar nama itu.” sahut Mongmong gembira.

“Maaf. Aku Lalan Belalang,” jawabnya masih dengan terisak-isak.

“Keluar lah. Ayo kita berkenalan”, kembali Mongmong membujuk Lalan.

Seketika ada yang melompat dari semak-semak Mongmong hampir ikut meloncat karena terkejut. Lalan Belalang kini sudah ada di hadapan Mongmong.

“Halo Mongmong. Maafkan kalau suara tangisku mengganggumu,” ucap Lalan Belalang lirih.

“Oh tidak apa-apa. Tentu saja aku tidak terganggu. Aku hanya penasaran. Apa sebenarnya yang sedang kamu alami?”

“Aku sedang bersedih. Mereka bilang aku hanya pandai omong kosong. Cita-citaku hanya khayalan”, Lalan berkata masih dengan sedikit sisa tangisnya.

Mongmong kaget mendengarnya. “Siapa yang mengatakan begitu?” selidik Mongmong penasaran.

“Bebe Belibis dan Kolin Katak. Mereka tidak percaya aku mampu mewujudkannya”, ucap Lalan geram.

“Baiklah, tapi kenapa tidak kamu coba jelaskan lagi pada mereka?” usul Mongmong

Lalan menggelengkan kepalanya. “Mereka berdua dan yang lainnya terus menertawakan aku. Padahal ayah dan ibuku selalu mengatakan kami adalah serangga paling mahir melakukan itu.”

Mata Lalan Belalang mulai berkaca-kaca lagi. Dia tertunduk lesu. Mongmong gusar dan tampak mondar-mandir.

“Itu sebabnya aku terus merahasiakan cita-citaku” bisik Lalan.

“Oh ya apa yang dikatakan orang tua tentang cita-citamu itu?” Mongmong tiba-tiba berseru.

“Benarkah kamu mau mendengarnya?” tanya Lalan bersemangat.

“Tentu saja mau supaya aku bisa membantumu” Mongmong berusaha menghibur Lalan.

Sepasang mata Lalan makin membulat penuh harap.

Lalan pun mulai bercerita. “Ayahku bercerita bahwa kami memiliki tiga pasang kaki. Dua pasang ukurannya sama besar.”

“Lalu bagaimana dengan sepasang kaki yang lainnya?”, tanya Mongmong tidak sabar.

“Kaki belakang kami diciptakan jauh lebih besar dari yang lain. Kamu bisa melihatnya, kan?” ucap Lalan dengan nada bangga.

Mongmong akhirnya melihat ke arah Lalan dengan seksama. Menilik satu persatu dari ujung kepala hingga ke kaki Lalan. Kemudian ia melihat dirinya ia hanya memiliki dua pasang yang hampir sama panjang.

Dahi Mongmong berkerut, dan ia pun bertanya. “Apakah orang tuamu menjelaskan mengapa kaki belakangmu berbeda?”

“Kalian pasti sudah mendengar kami hebat saat membuat lompatan, bukan?” kata Lalan sambil tersenyum bangga.

Mongmong mengangguk tanda setuju. “Apakah itu ada hubungannya dengan kaki belakangmu?”

Lalan membalas anggukkan itu dan melanjutkan ceritanya. “Betul sekali. Kaki ini membantu kami mampu melompat hingga satu setengah meter. Lompatan akan lebih jauh lagi jika kedua sayap ini kami bentangkan dan….”

“Apakah cita-citamu ada hubungannya dengan kaki belakangmu itu?” tanya Mongmong tidak sabar hingga memotong cerita Lalan.

Lalan tersenyum. “”Wah kamu cerdas sekali. Betul kaki belakang ini yang akan mewujudkan impianku, Mong.”

“Jadi cita-citamu adalah pelari atau pelompat?” tebak Mongmong yang langsung disambut gelengan kepala Lalan secepat kilat.

Mongmong terheran-heran mendapatkan jawabannya salah.

“Cita-citaku adalah perenang” kata Lalan dengan bangga.

“Wow luar biasa. Apakah benar-benar kaki belakangmu bisa membantumu?” Mongmong terperanjat sama sekali tak menduga.

Lalan menatap lembut ke arah Mongmong. “Kaki belakangku ini besar dan panjang jadi mampu kami gunakan untuk berenang dengan cepat. Karena itulah, di kalangan serangga kami sangat terkenal sebagai salah satu perenang terbaik.”

“Baiklah kita memang diciptakan Tuhan dengan keunikan dan keunggulan masing-masing. Kita harus saling mendukung. Sekarang maukah kamu ikut bermain ke danau bersamaku? Kamu bisa membuktikannya keahlianmu itu di sana.” usulan Mongmong di terima dengan senang hati oleh Lalan.

Mereka pun pergi bersama ke danau saling berkejaran adu cepat sampai ke tujuan. Mongmong bergelayut dari dahan ke dahan sedangkan Lalan melompat riang di daratan.

Baca Juga : Cerita Anak Tema Cita – Cita

Penutup

Demikian cerpen karya Arif Prayitno, yang berjudul Cita-Cita Rahasia Lalan Belalang.

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.