Kejujuran Untuk Meraih Cita-Cita, Cerpen Anak

gurune.net – Berikut contoh ceprpen anak, karya ini adalah karya original dari gurune.net. Silahkan dibaca untuk referensi tentang cerpen anak.

Kejujuran Untuk Meraih Cita-Cita

Sore itu seperti biasa Rayyan sedang membantu ibu menyapu teras rumahnya. Namun aktivitasnya tiba-tiba terhenti ketika dia menemukan sebungkus kacang di balik pintu teras rumahnya. Sepertinya memang sengaja disembunyikan,

“Wah, kacang siapa ya? Kok ditaruh disini, apa lupa ya? Atau apakah Ini punya kak Ari ya?” Gumam Rayyan dalam hati. Tapi, menuduh itu kan tidak baik, siapa tahu kak Ari lupa jatuh kacangnya di sini, gumamnya kembali.

Ari adalah sosok kakak yang sangat baik, dia juga selalu berbagi apapun yang dia punya pada adik yang disayanginya yaitu Rayyan. Perihal kacang yang ditemukan Rayyan, masih belum diketahui, siapa yang sengaja menaruhnya di balik pintu. Rayyan menyimpan dengan baik sebungkus kacang tersebut dengan harapan jika suatu hari nanti ada yang bertanya, Rayyan akan memberikan kacang tersebut.

Rayyan memang tidak diizinkan oleh orangtuanya memakan kacang, kalaupun dia ingin pasti akan ada porsi tertentu yang sudah ditakdirkan oleh sang ibunya. Ya, alasannya adalah sejak kecil Rayyan mempunyai alergi jika dia selesai memakan kacang-kacangan atau apapun yang mengandung kacang.

Malampun tiba, ketika itu ibu selesai menyiapkan makan malam dan bergegas memanggil ayah, Ari dan juga Rayyan. Di meja makan, Rayyan terlihat sangat gelisah, rupanya dia memikirkan sebungkus kacang yang ditemukannya tadi siang.

“Rayyan, kok melamun? Makanannya nggak enak ya?” Tanya ibunya.

“Eeehh… Eeeehm, enggak Bu, makanannya enak kok, tapii…” Ucap Rayyan ragu-ragu.

“Kenapa Rayyan? Apakah mau diambilkan lagi nasinya? Kurang banyak?” Sahut Ari kemudian mengambil sendok nasi.

“Ada apa dek? Ada yang mau kamu sampaikan?” Sahut sang ayah.

Sambil ragu-ragu kemudian Rayyan menyampaikan apa yang menjadikannya ia merasa gelisah.

“Iii… Itu Yah, tadi pas Rayyan membantu ibu menyapu, Rayyan menemukan sebungkus kacang. Rayyan nggak tahu itu punya siapa yah,” jelasnya.

“Wah, kamu ngambil kacangku ya? Itu kacangku dek. Aku taruh di kotak penyimpanan belakang pintu itu.” Ucap sang kakak sambil menunjuk kotak penyimpanan yang dia maksud.

“Aku nggak ngambil kak. Aku tadi tahunya kacang tersebut ada di bawah dan hampir tersapu olehku.” Seru Rayyan menjelaskan.

Kemudian, Rayyan meninggalkan ruang makan dan segera bergegas untuk mengambil kacang yang ditemukannya tadi.

“Ini Bu, ini yah… Kacangnya masih ada, Rayyan cuma menemukannya saja. Rayyan simpan siapa tahu nanti ada yang mencari kacang ini.” Segera diletakkannya kacang tadi di meja makan

“Ya sudah, sekarang kita makan dulu ya…. Nanti setelah makan kita lanjutkan ngobrolin kacangnya.” Sahut sang ayah.

“Yuk Rayyan, Ari, makan dulu ya.” Imbuh ibunya.

Selesai makan, mereka berkumpul di ruang televisi untuk membahas kacang yang ditemukan Rayyan tadi. Ada ibu, ayah, kak Ari dan juga Rayyan.

“Eeeh, ibu punya kisah yang bagus lho, ada yang mau mendengarkan kisah ibu?”

Rayyan dan Ari sangat antusias mendengarkan ibunya berkisah, apalagi jika ibu berkisah sambil membawa alat peraga atau boneka tangan kesayangannya. Sang ibu menceritakan tentang kejujuran Rasulullah, kemudian ibu berseru.

“ Mas, Dek…. Orang yang jujur itu mukanya kelihatan lho, begitu juga orang yang bohong”. Ungkap ibu sambil mencontohkan ekspresi muka jujur dan bohong. Ibu melanjutkan dengan membacakan hadits dari Abdullah bin salam, bahwa beliau pernah berkata, “Ketika Rasulullah datang ke Madinah, manusia berbondong-bondong mendatanganinya, akupun juga bersama mereka untuk melihat beliau. Ketika aku melihat wajah Rasulullah, aku tahu bahwa wajahnya adalah wajah seorang pendusta….” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majjah, Ad Darimi)

Kemudian, ibu juga melanjutkan tentang kisah perjalanan Rasulullah pada malam Isra’ dan Mi’raj. Bahwa saat beliau naik ke langit, Nabi Muhammad SAW melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Kemudian beliau bersabda: “Malam ini aku melihat dua orang laki-laki mendatangiku, mereka berdua berkata kepadaku: ‘Orang yang kamu lihat merobek rahangnya adalah seorang pendusta yang berdusta sekali lalu bertumpuk hingga sapai ke ufuk. Dia akan di perlakukan seperti itu hingga hari kiamat’.” (HR. Bukhari)

“Siapa anak yang jujur?”

“Saya bu… Saya bu…”  sahut Rayyan dan Ari bersahutan

“Kenapa nggak mau jadi anak yang bohong?”

“Nanti masuk neraka, mulutnya dirobek di sana” Ucap Rayyan sambil bergidik

“Nah, kalau nggak mau jadi anak yang bohong, nggak mau masuk neraka harus jadi anak yang jujur ya?” Imbuh sang ayah

Tiba-tiba Ari berseru “Dek Rayyan, tadi kamu beneran yang menemukan kacangku? Kamu nggak sengaja mengambil kan?”

“Enggak mas…. Tadi Rayyan memang tahu kacangnya sudah di bawah, kemudian Rayyan menyimpannya. Rayyan nggak sengaja ngambil karena Rayyan juga takut mau makan kacangnya, takut alergi Rayyan kambuh, meskipun sebenarnya Rayyan dari tadi ingin sekali memakannya.” Jelasnya dengan tegas.

“Ini mas kacangnya.” Seru rayyan sambil menyodorkan kacang pada kakaknya

“Terima kasih ya dek. Maaf aku sudah berprasangka kalau kamu sengaja mengambil kacangku. Maafkan mas Ari ya…” Ungkap Ari sambil tertunduk malu.

“Nah, sekarang kan sudah ketahuan kalau kacangnya mungkin jatuh dan ditemukan Rayyan. Boleh ya adek Rayyan dikasih sedikit kacangnya, mas Ari?” Ungkap sang ibu.

Ari menganggukkan kepalanya sembari tersenyum lebar. Kemudian mereka memakan kacang bersama-sama.

 “Ya itulah tadi balasan untuk orang-orang yang suka berbohong, orang yang tidak jujur akan dihukum sama Allah. Namun untuk orang yang jujur seperti Rasulullah, nanti oleh Allah akan dibalas dengan surga. Di surga ada semuanya, kacang yang lebih enak dari ini juga tersedia di sana. Dan enaknya di surga itu, apapun yang kita minta akan dikasih sama Allah dan nikmatNya nggak akan pernah habis.” Jelas sang ayah

 “Rayyan akan selalu jadi anak yang jujur yah, karena Rayyan cita-citanya ingin menjadi pemimpin yang jujur. Pemimpin yang jujur akan membuat rakyatnya juga jujur kan yah?” Sahut rayyan antusias.

“Wah, keren cita-citanya Nak. Semoga dengan kejujuran akan selalu membawa kalian anak-anak ibu dan ayah menjadi pribadi yang lebih dihormati, lebih dihargai dan yang terpenting lebih disayangi oleh Allah SWT.” Jelas sang ibu

“Ari juga akan selalu menjadi anak yang jujur yah, agar Allah, ayah dan ibu juga bangga sama ari, biar kita juga akan selalu bersama-sama hingga ke surga nanti.”

“Aaamiiiinn…..” Sahut semuanya menimpali.

” Berpeganglah kalian kepada kejujuran, karena sesungguhnya Kejujuran akan menuntun kepada kebajikan dan kebajikan akan menuntun kepada surga…”( HR Bukhori dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud )

Satu pemikiran pada “Kejujuran Untuk Meraih Cita-Cita, Cerpen Anak”

Tinggalkan komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.