Era Pendidikan Abad 21

Era Pendidikan Abad 21
Era Pendidikan Abad 21 

Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka kebutuhan akan pendidikan juga akan berkembang. Agar lulusan suatu lembaga dapat sesuai dengan kebutuhan maka tenaga-tenaga pendidik termasuk didalamnya “guru” perlu mendapat pengetahuan tentang perkembangan terbaru dalam bidang pendidikan, termasuk tentang kurikulum.

Kecenderungan – Kecenderungan di Abad 21

Pada abad ke-21 terjadi suatu keadaan yang disebut globalisasi yang ditandai oleh banyaknya perubahan – perubahan pada semua aspek kehidupan, bukan hanya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dalam bidang ekonomi, social, budaya, dan politik. 

Pada era globalisasi, yang juga disebut era informasi, akan terjadi suatu proses perubahan antar negara, bangsa, antar budaya tanpa mengenal batas ruang dan waktu.

Pada masa ini dan yang akan datang pengaruh era globalisasi akan semakin terasa dengan semakin banyaknya saluran informasi yang tersedia dan sebagian besar sudah terbalut dalam sistem jaringan internet. 

Semua itu dimungkinkan dengan adanya perkembangan yang pesat dalam bidang teknologi, terutama dalam teknologi komunikasi, informasi,  dan transportasi.

Globalisasi merupakan suatu proses strukturisasi dunia sebagai suatu keseluruhan yang menghadirkan dua kecenderungan yang saling bertentangan sekaligus, yaitu proses penyeragaman dan pemberagaman sehingga membuat interaksi yang rumit antara lokalisme dan globalisme.

Hal tersebut muncul diantaranya sebagai pengaruh dari adanya sistem informasi satelit dunia, penggalian gaya hidup cosmopolitan, munculnya pola konsumsi dan konsumerisme global, munculnya event – event olah raga internasional, penyebaran dunia pariwisata, menurunya kedaulatan Negara dan bangsa, tumbuhnya sistem militer global, dan masih banyak lainya.

Dampak dari globalisasi akan sangat menuntut manusia untuk dapat mengendalikan dan memanfaatkan efek – efek dari globalisasi dalam kehidupanya. Sebab manusia sendiri pencipta globalisasi maka manusialah yang harus dapat mengendalikanya, menguasai, memanfaatkan, mengembangkan untuk kepentingan kehidupan.

Dari beberapa literature diperoleh sejumlah keterangan bahwa kemunculan era globalisasi ditandai oleh beberapa hal sebagai berikut :

  • Meningkatnya interaksi antar warga dunia, baik secara langsung maupun tak langsung.
  • Semakin banyaknya informasi yang tersedia dan dapat diperoleh
  • Meluasnya cakrawala intelektual
  • Munculnya arus keterbukaan dan demokrasi baik dalam politik maupun ekonomi
  • Memanjangnya jarak budaya antara generasi tua dan muda
  • Meningkatnya kepedulian akan perlunya menjaga keseimbangan dunia
  • Meningkatnya kesadaran akan saling ketergantungan ekonomis
  • Mengaburnya batas kedaulatan wilayah tertentu karena tidak terbendungnya informasi

Dengan kemajuan teknologi transportasi dan komunikasi maka globalisasi sering pula diartikan sebagai gejala mengerutnya dunia karena jarak jauh yang dapat ditempuh dalam waktu yang makin pendek, dan informasi dari segala penjuru dunia yang dapat diperoleh dalam waktu yang makin cepat.

Bagi masyarakat dinegara berkembang seperti Indonesia, globalisasi akan sangat berpengaruh dalam segala aspek kehidupan. Globalisasi akan menjadikan budaya yang kuat mempengaruhi budaya yang lemah.

Pada zaman yang cepat berubah ini, apabila kita tidak ingin kehilangan unsur – unsur budaya sebagai akar pendidikan kita maka kita harus mampu mengembangkan budaya kita secara progresif, yaitu dengan tidak berpandangan sempit.

Kecenderungan – kecenderungan di abad 21 memperoleh perhatian banyak pihak terutama para ahli masa depan ( futurist ). 

Menurut  John Naisbitt, ada sepuluh kecenderungan besar yang akan terjadi di abad 21 ini yaitu :

  1. Masyarakat Industri menuju masyarakat informasi
  2. Dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi
  3. Dari ekonomi nasional ke ekonomi global
  4. Dari perencanaan jangka pendek ke jangka panjang
  5. Sentralisasi menuju desentralisasi
  6. Dari bantuan institusional ke bantuan diri
  7. Dari demokrasi perwakilan ke partisipatoris
  8. Dari hierarki ke penjaringan
  9. Dari utara ke selatan
  10. Dari satu pilihan ke majemuk

Dari berbagai kecenderungan tersebut menimbulkan berbagai implikasi terhadap berbagai bidang kehidupan, termasuk didalamnya pendidikan.

Peran pendidikan jadi semakin berat, bagaimana mempersiapkan manusia yang mampu mengendalikan dan memanfaatkan perubahan – perubahan sebagai pengaruh dari globalisasi.

Baca Juga : Kebijakan Baru Pak Nadiem Makarim Mendikbud RI

Pendidikan juga diharapkan mampu melestarikan kehidupan manusia, mendukung hak asasi manusia di berbagai belahan dunia, memberikan kehidupan yang layak, menegakan dasar – dasar moral baru, dan mengatasi dampak kemajuan IPTEK. 

Pendidikan dituntut harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi tantangan kecenderungan itu tanpa kehilangan nilai – nilai kepribadian dan budaya bangsa.

Lulusan Pendidikan di Abad 21

Empat pilar pendidikan memperhatikan konsekuensi logis dari perkembangan era globalisasi, perkembangan IPTEK, perubahan dan peristiwa yang terjadi di masyarakat, serta harapan tentang masyarakat dunia masa depan yang damai. 

Comission on Education for the twenty – first Century dalam laporanya kepada UNESCO mengemukakan pentingnya saling pengertian antar manusia dan antar bangsa yang penuh kedamaian dan harmoni sebagai hal yang dirasakan amat kurang dalam dunia dewasa ini.

Dengan menerima kenyataan itu maka komisi menetapkan betapa pentingnya membangun kebersamaan masa depan dimana belajar sepanjang hayat merupakan denyut jantung masyarakat dan sebagai kunci memasuki abad 21 sekaligus mengemukakan empat pilar pendidikan yang diajukan dan digambarkan sebagai dasar-dasar dari pendidikan ( the foundations of education ). 

Baca Juga : Contoh Proses Pembelajaran Era 4.0

Adapun 4 Pilar pendidikan abad 21 terdiri dari :

# Learning to know

Pilar pertama ini merupakan kunci pendidikan sepanjang hayat ( lifelong education ) dan menjadi dasar belajar sepanjang hayat ( learning throughout life ). Learning to know berarti juga learning to learn, belajar untuk memperoleh pengetahuan dan untuk melakukan pembelajaran selanjutnya.

# Learning to do

Pilar kedua ini secara umum menuntut penguasaan kompetensi yang memungkinkan seseorang untuk dapat hidup dalam berbagai keadaan yang berhubungan dengan situasi yang berbeda – beda, belajar bekerja, bekerja sama dalam tim, dan belajar menghadapi berbagai situasi yang sering tidak terduga.

# Learning to be

Pilar ke tiga ini, yaitu belajar untuk mengaktualisasi diri sebagai individu mandiri dengan kepribadian yang memiliki timbangan ( judgment ) yang dikombinasikan dengan tanggung jawab pribadi untuk mencapai tujuan bersama.

# Learning to live together

Pilar ke empat ini dianggap sebagai landasan pendidikan dari ketiga pilar sebelumnya dengan pengembangan pemahaman dan apresiasi tentang orang lain dan sejahteranya, tradisi dan nilai spiritual, dan mendasarkan pada semangat baru untuk mampu mengapresiasi dan mengamalkan kondisi saling ketergantungan, keanekaragaman, saling memahami damemecahkan konflik dengan cara damai.

Pandangan tentang empat pilar pendidikan yang ditawarkan oleh UNESCO tersebut memastikan peran pendidikan dalam era industry 4.0 atau abad 21 ini perlu ditumbuhkan melalui budaya sekolah, baik melalui individu, kelompok maupun lembaga pendidikan terkait.

Dengan memperhatikan empat pilar pendidikan tersebut, berbagai kelemahan yang berkembang dimasyarakat, dan dengan mempertimbangkan akar budaya masyarakat yang menjunjung tinggi nilai – nilai agama, maka sekolah dasar di Indonesia seharusnya dikembangkan untuk membantu siswanya menguasai kompetensi yang berguna bagi kehidupanya dimasa depan, yaitu kompetensi keagamaan, akademik, ekonomi, dan social pribadi. Secara ringkas ke empat kelompok kompetensi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

# Kompetensi Keagamaan

Kompetensi ini meliputi pengetahuan sikap, dan ketrampilan keagamaan yang diperlukan untuk menjalankan fungsi – fungsi manusia dalam kehidupanya sehari – hari sebagai mahluk ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Termasuk dalam kompetensi ini dibutuhkan kemampuan – kemampuan untuk menjalankan ibadah ritual sehari – hari, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok, sebagai sarana untuk memperoleh pengalaman keagamaan yang bermakna bagi kehidupan para siswa di sekolah dasar.

# Kompetensi Akademik

Kompetensi akademik meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan untuk dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan dengan usia dan tingkat perkembangan siswa sekolah dasar. Ke dalam kompetensi ini termasuk ketrampilan belajar dan kemampuan mengakses informasi untuk dapat terus belajar sepanjang hayat, sesuai dengan prinsip life long education, pendidikan seumur hidup.

# Kompetensi Ekonomi

Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap dam ketrampilan yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan ekonomi agar siswa sekolah dasar dapat hidup layak di masyarakat. Sikap wirausaha dan etos kerja yang mendukung produktivitas pribadi merupakan bagian penting dari kompetensi ekonomi ini.

#Kompetensi Sosial Pribadi

Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan untuk dapat hidup adaptif sebagai warga Negara dan warga masyarakat internasional yang demokratis, kemampuan, ketrampilan mengelola diri sendiri ( intrapersonal ) serta kemampuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan orang lain ( interpersonal ) dalam kehidupan masyarakat yang heterogen.

Sekolah harus dipandang sebagai satu kesatuan sistem pendidikan yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling bergantung satu sama lain.

Dengan demikian, pengembangan keempat kompetensi siswa sekolah dasar tersebut tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada para guru dalam kegiatan pembelajaran dikelas, melainkan kepada iklim kehidupan dan budaya sekolah secara keseluruhan.

Setiap sekolah sebagai suatu kesatuan diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar kepada seluruh siswanya untuk menguasai keempat kompetensi tersebut sesuai dengan jenjang pendidikan sekolah dasar dan misi khusus yang diembanya.

Format Pendidikan Yang Tersedia di Abad Ke-21 ( Era Revolusi Industri 4.0 )

#Cyber ( E – Learning )

Kemajuan teknologi informasi banyak membawa dampak positif bagi kemajuan dunia pendidikan dewasa ini. Khususnya teknologi computer dan internet, baik Hardware maupun software, memberikan banyak tawaran bagi dunia pendidikan untuk menunjang proses pembelajaranpara peserta didik.

Keunggulan yang ditawarkan bukan saja terletak pada factor kecepatan untuk mendapatkan informasi, namun juga fasilitas multimedia yang dapat membuat belajar lebih menarik, visual, interaktif. Sejalan dengan perkembangan teknologi internet, banyak kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan dengan memanfatkan teknologi ini.

Electronic Learning ( E – Learning ) pada hakikatnya adalah belajar atau pembelajaran melalui pemanfaatnan teknologi computer dan atau internet.

Teknologi belajar seperti itu bisa juga disebut sebagai belajar atau pembelajaran berbasis web ( Web-Based Instruction ). 

E – Learning berbasis web ini dipengaruhi oleh pesatnya perkembangan pada tiga tiga bidang, yaitu pembelajaran jarak jauh, pembelajaran dengan menggunakan computer, dan perkembangan yang sangat pesat dalam teknologi internet.

Sebetulnya pembelajaran jarak jauh sudah ada sejak tahun 1800-an di Amerika Serikat, Prancis dan Negara Eropa lainya. Pada awalnya sistem pembelajaran jarak jauh dilakukan melalui korespondensi menggunakan media kertas dan jasa pos, namun kemudian kemjuan teknologi computer dan internet membawa dampak luar biasa dalam memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk mengkases informasi untuk pembelajaran dengan mudah, menarik, visual dan interaktif.

Kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi internet ini adalah kecepatan dan tidak terbatasnya tempat dan waktu untuk mengakses informasi.

Informasi dapat diakses oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja secara cepat, mudah, dan murah. 

Kegiatan belajar dapat dengan mudah dilakukan oleh siswa kapan saja dan dimana saja yang dirasakan nyaman. Batasan ruang, jarak dan waktu untuk tidak lagi menjadi masalah rumit untuk dipecahkan.

# Open dan Distance Learning

Pembelajaran jarak jauh merupakan model belajar dimana guru dan siswa tidak berada dalam satu tempat dan waktu yang sama secara tidak bertatap muka secara fisik atau langsung.

Namun diantara mereka ada komunikasi dua arah yang dilakukan dengan berbagai cara dengan bantuan teknologi komunikasi dan informasi.

Model belajar seperti ini merupakan konsep pengembangan pendidikan jarak jauh atau sering disebut pendidikan / belajar terbuka, sekolah korespondensi, kelas maya, dan belajar fleksibel.

Belajar jarak jauh berorientasi pada siswa, berbeda dengan sitem konvensional yang lebih berfokus pada gurunya.

Fungsi guru disini bergeser bukan lagi sebagai sumber belajar, tetapi lebih sebagai pengelola kelas dan fasilitator. Proses belajar menuntut siswa secara aktif dengan menggunakan bahan belajar sendiri baik cetak maupun elektronik.

# Quantum Learning

Metode belajar ini menurut DePoerter sesuai cara kerja otak manusia dan cara belajar manusia pada umumnya.

Kurikulum dikembangkan secara harmonis dan berisi kombinasi dari tiga unsur yaitu akademis, prestasi, dan kecakapan hidup.

Kurikulum didasarkan pada filsafat dasar bahwa belajar itu dapat dan harus menyenangkan. 

Metode Quantum Learning menjadi awal munculnya metode quantum teaching yang dapat melejitkan kemampuan guru dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

Quantum Teaching menawarkan cara – cara baru untuk memaksimalkan dampak dari usaha pembelajaran melalui penciptaan lingkungan belajar yang efektif untuk memudahkan proses belajar. Asas utama dari Quantum Teaching yaitu :

“ Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka “

Maksudnya bahwa langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang guru yaitu memasuki dunia anak untuk mengetahui minat,bakat, kemampuan. Setelah itu barulah seorang guru mengantarkan atau menyajikan materi pelajaran.

# Coorporative Learning

Pembelajaran bersifat koperatif ini sebenarnya telah lama dipergunakan didunia pendidikan di Indonesia. Pembelajaran cooperative diartikan sebagai pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil yang dapat menumbuhkan kerjasama secara maksimal dan masing – masing siswa belajar satu dengan lainya.

Dalam pembelajaran ini siswa mempunyai dua tanggung jawab yaitu belajar konten yang telah dirancang dan menjadikan semua anggota kelompok bekerja sama. 

Pada abad 21, format kooperatif sangat diperlukan, terutama untuk menunjang pilar “ to live together

# Society – Technology – Science ( STS )

Secara filosofi konsep STS didasari oleh suatu pandangan bahwa peran ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dengan kehidupan masyarakat. 

# Accelerated Learning

Accelerated Learning atau belajar akselerasi adalah suatu kemampuan menyerap dan memahami informasi baru secara cepat serta mempertahankan informasi tersebut.

Dalam belajar akselerasi sangat diperlukan konsep “ Learning How To Learn “ maksudnya adalah belajar yang tujuanya menguasai bagaimana cara mempelajari sesuatu, Bukan belajar untuk menguasai ilmu pengetahuan atau ketrampilan tertentu.

JIka belajar sudah merupakan sesuatau yang bersifat alami maka akan lebih memberikan kemudahan dalam mempelajari sesuatu.

Kemudian proses belajar tersebut akan mempengaruhi kecepatan belajar seseorang ( Learning Fast ). 

Jadi, kecepatan belajar itu tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi melalui suatu proses yang berkesinambungan.

Belajar akan menjadi sesuatu yang menggembirakan dan bebas dari rasa stress apabila guru – guru menggunakan games dan aktivitas, emosi dan music, rileksasi, bermain peran, kegiatan melukis, dengan menggunakan warna, dan adanya peta belajar.

Guru dan siswa dapat bekerja sama secara utuh yang mengakibatkan belajar lebih menyenangkan, efektif, dan lebih cepat.

Materi Terkait


Tinggalkan komentar