Mengenal Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro

Pangeran Diponegoro
Pangeran Diponegoro

Perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825-1830. Perang Diponegoro merupakan salah satu perang terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Peperangan ini terjadi secara menyeluruh di wilayah Jawa sehingga disebut Perang Jawa.

 

Tulislah pertanyaan sebanyak mungkin tentang perjuangan Pangeran Diponegoro.

  1. Siapa nama asli Pangeran Diponegoro?
  2. Dari mana Pangeran Diponegoro berasal?
  3. Apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya?
  4. Apa saja peninggalan Pangeran Diponegoro?

Berdasarkan informasi yang kamu peroleh, buatlah peta pikiran mengenai Pangeran Diponegoro!

Bendara Pangeran Harya Dipanegara (atau biasa dikenal dengan nama Pangeran Diponegoro, lahir di Ngayogyakarta Hadiningrat, 11 November 1785 dari ibu yang merupakan seorang selir (garwa ampeyan), bernama R.A. Mangkarawati, dari Pacitan dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang di kemudian hari naik tahta bergelar Hamengkubuwana III. Pangeran Diponegoro sewaktu dilahirkan bernama Bendara Raden Mas Mustahar, kemudian diubah menjadi Bendara Raden Mas Antawirya.Nama Islamnya adalah Ngabdul Kamid.[3] Setelah ayahnya naik tahta, Bendara Raden Mas Antawirya diwisuda sebagai pangeran dengan nama Bendara Pangeran Harya Dipanegara.

Pangeran Diponegoro dikenal sebagai pribadi yang cerdas, banyak membaca, dan ahli di bidang hukum Islam-Jawa. Dia juga lebih tertarik pada masalah-masalah keagamaan ketimbang masalah pemerintahan keraton dan membaur dengan rakyat. Sang Pangeran juga lebih memilih tinggal di Tegalrejo, berdekatan dengan tempat tinggal eyang buyut putrinya, yakni Gusti Kangjeng Ratu Tegalrejo, permaisuri dari Sultan Hamengkubuwana I, daripada tinggal di keraton.

Perang Diponegoro atau Perang Jawa diawali dari keputusan dan tindakan Hindia Belanda yang memasang patok-patok di atas lahan milik Diponegoro di Desa Tegalrejo. Tindakan tersebut ditambah beberapa kelakuan Hindia Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan eksploitasi berlebihan terhadap rakyat dengan pajak tinggi.

Perang Diponegoro terjadi pada tahun 1825-1830. Perang Diponegoro merupakan salah satu perang terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara. Peperangan ini terjadi secara menyeluruh di wilayah Jawa sehingga disebut Perang Jawa. Sejarah mencatat, Perang Diponegoro atau Perang Jawa dikenal sebagai perang yang menelan korban terbanyak dalam sejarah Indonesia, yakni 8.000 korban serdadu Hindia Belanda, 7.000 pribumi, dan 200 ribu orang Jawa serta kerugian materi 25 juta Gulden.

Peninggalan bersejarah yang ditinggalkan pada masa Pangeran Diponegoro antara lain:

  1. Babad Diponegoro. Babad Diponegoro merupakan kumpulan puisi (mascapat atau puisi tradisional Jawa/tembang) setebal 1.170 halaman folio, yang menceritakan sejarah nabi, sejarah Pulau Jawa baik pada zaman Majapahit hingga perjanjian Giyanti (Mataram), yang dituturkan langsung oleh Pangeran Diponegoro sendiri dan ditulis oleh juru tulis sejak Mei 1831 hingga Februari 1832, ketika sang Pangeran diasingkan di Manado.
  2. Keris. Pangeran Diponegoro terkenal selalu membawa kerisnya. Beberapa keris yang dimilikinya adalah Keris Kiai Omyang (tersimpan di Museum Sasana Wiratama-Yogyakarta), Keris Kiai Wisa Bintulu (tersimpan di Gedong Pusaka Keraton Yogyakarta, dan Keris Kiai Nogo Siluman.
  3. Tongkat. Pangeran Diponegoro juga memiliki tongkat yang dinamakan Kanjeng Kiai Tjokro, yang saat ini disimpan di Galeri Nasional Indonesia.
  4. Tombak. Tombak Kiai Rodhan adalah salah satu senjata pusaka Pangeran Diponegoro. Tombak ini terbuat dari kayu dengan dilapisi benang hitam dan dipercaya dapat memberikan perlindungan dan peringatan datangnya bahaya. Pada mata tombak terdapat bagian yang dilapisi emas dan pada bagian pangkal matanya terdapat empat relung yang berhias permata (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Diponegoro).

Salah satu upaya yang dilakukan Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya adalah menyatukan seluruh rakyat pribumi dalam semangat “Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati“; sejari kepala, sejengkal tanah, dibela sampai mati.

Usaha ini berhasil karena Pangeran Diponegoro melakukannya disertai dengan memelopori, mencontohkan, dan memberikan komando yang jelas kepada semua rakyat, khususnya di Pulau Jawa.

Apa yang dapat kamu teladani dari perjuangan Pangeran Diponegoro? Jelaskan jawbanmu.

Keberanian dan semangatnya dalam melawan penjajah

Apakah semangat Pangeran Diponegoro menyatukan rakyat yang berbeda-beda dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari? Berikan contoh.

Dalam kehidupan sehari-hari semangat Pangeran Diponegoro dapt diterapkan, misalnya dalam menyatukan berbagai macam warga yang berasal dari berbagai daerah, suku, dan kepribadian yang berbeda

Apakah kamu pernah bekerja sama dengan teman yang berbeda-beda untuk mencapai tujuan? Tulis pengalaman bekerja sama yang pernah kamu lakukan.

Pernah, misalnya dalam melakukan tugas kelompok. Masing-masing dari anggota kelompk memiliki pemikiran dan cara sendiri dalam menyelesaikan tugas, tetapi kami tetap  bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kelompok tersebut

 

Materi Terkait


Tinggalkan komentar